Memilih Sekolah Dasar Unggulan

Merasa nyaman dan senang bersekolah merupakan faktor penting yang akan memberikan motivasi tinggi terhadap anak dalam proses belajar.

Seorang anak-sebut saja Rani – kini berusia 6 tahun 9 bulan. Dia duduk di bangku kelas 1 Sekolah Dasar. Tidak seperti siswa lainnya, Rani tampaknya menghadapi berbagai masalah. Tugas-tugas sekolahnya tidak pernah selesai. Posisi duduknya menunjukkan kurangnya minat dan motivasinya terhadap sekolah. Tiap ingin berangkat ke sekolah, dia selalu merasakan sakit perut. Tapi setelah diperiksakan ke dokter tidak ditemukan adanya gejala klinis. Rani sehat-sehat saja.

Di sekolah, Rani belajar bersama 39 siswa lainnya dalam satu kelas dengan seorang guru kelas. Guru mengajar dengan cara memberikan catatan-catatan di papan tulis dan murid mencatat di bukunya masing-masing. Di papan terdapat beberapa catatan mengenai beberapa mata pelajaran sekaligus. Ini dilakukan untuk memberikan kesempatan bagi anak-anak yang ketinggalan dalam mencatat.

Rani tidak pernah selesai dalam mencatat maupun menyelesaikan soal-soal yang diberikan gurunya. Guru pun tidak berupaya menyediakan waktu bagi Rani untuk mengatasi masalah yang dihadapi murid-muridnya. Rani memang termasuk anak pendiam, agak malu-malu dan kurang berinisiatif dalam memulai pertemanan.

Tentu saja orang tua Rani bingung, Kebingungan itu bukan tanpa alasan. Masalahnya saat belajar di Taman Kanak-kanak (TK), Rani termasuk anak yang cepat dan mudah mengikuti kegiatan-kegiatan yang diberikan oleh guru. Dia sudah dapat membaca, berhitung dan menulis saat menyelesaikan pendidikannya di TK.

Apa yang terjadi pada diri anak itu? Linda Primana, staf pengajar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI) yang mengisahkan kasus tersebut dalam sebuah seminar yang diselenggarakan Jakarta Books. Ia melihat tampaknya sekolah yang ditempati Rani saat ini tidak sesuai dengan keadaan perkembangan dirinya.

Linda menuturkan, orang tua beranggapan dengan perkembangan yang baik di TK, Rani dapat dengan mudah mengikuti pelajaran-pelajaran di SD yang dipilih orang tuanya. “Padahal untuk dapat masuk dan memulai pendidikan di SD, dibutuhkan kematangan dan kesiapan sekolah yang mencakup aspek fisik, mental dan sosial-emosional,” tuturnya.

Bagi seorang anak, kata LInda, kelas 1 SD merupakan periode transisi dari masa kanak-kanak yang pesat pertumbuhannya ke fase berikutnya yang memiliki laju perkembangan tidak secepat sebelumnya. Meskipun semua pertumbuhan mengikuti pola umum, namun setiap anak memiliki pola dan waktu tumbuh yang khas.

Dia mengatakan, ada anak yang ‘matang’ lebih cepat, ada juga yang lebih lambat dibandingkan anak lain, baik dari segi fisik, mental, sosial, maupun emosional. Terlalu cepat atau terlalu lambat pertumbuhan dapat terjadi pada semua aspek, namun dapat pula terjadi pada satu atau beberapa aspek saja” tuturnya.

Prof Dr Soegeng Santoso yang juga menjadi pembicara dalam seminar itu memandang perlu memperhatikan anak di usia  0 – 6 tahun. Di masa-masa seperti itu , disebutnya, kecerdasan anak sudah mencapai 80 persen. “Kalau itu tidak diperhatikan, jenjang selanjutnya akan susah,” tutur guru besar Universitas Negeri Jakarta (UNJ) ini.

Sekolah yang unggul menurut Prof Soegeng Santoso adalah apabila memenuhi beberapa kriteria. Antara lain, guru yang pandai dan mempunyai kepribadian yang matang, metode mengajar yang cocok dengan mata pelajaran yang diberikan guru, keseimbangan antara pelajaran jasmani dan rohani dan memperhatikan berbagai kecerdasan yang dimiliki anak. Dia menyarankan sebaiknya mencari SD yang memenuhi syarat seperti itu. Paling tidak sebagian besar dari syarat-syarat itu.

Soegeng mengingatkan faktor yang tidak boleh dilupakan adalah disenangi anak atau tidak. Yang bagus, kata dia, sekolah itu sangat disenangi oleh anak, sebab akan memberikan motivasi yang tinggi untuk belajar.

Linda menambahkan, kepribadian guru sangat menentukan karena sebaik apa pun kurikulum bila disampaikan oleh guru yang tidak memiliki kepribadian yang patut diteladani, akan sia-sia/ “Yang paling penting peran guru. Anak harus dibuat nyaman, tidak ada rasa takut. Ketidaknyamanan semacam itulah yang dirasakan Rani, seperti dikisahkan di awal tulisan ini. Lalu bagaimana menyelesaikannya? “Saya mengajnjurkan pindah sekolah, ” LInda menyarankan.

Sumber: Harian Republika, 16/04/2004

Perihal syamsul hadi
Dapat dihubungi melalui email ke :syamsulhadi@live.com.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: