Mengatakan “bodoh” bukanlah solusi

Penilaian individu terhadap anak sering diperdebatkan karena penilaian tersebut merupakan identifikasi masalah atau bahkan memberi cap kepada anak yang bisa membuat anak menjadi lebih buruk dan bisa mempengaruhi rasa percaya diri dan harga diri mereka.

Dari hasil pengalaman saya, anak justru merasa jauh lebih buruk bilamana mereka mengetahui bahwa dirinya bermasalah. lebih-lebih bila mereka membandingkan prestasi mereka sendiri dengan prestasi teman sekelasnya, namun mereka tidak mengetahui dengan pasti masalah apa yang mereka hadapi dan bagaimana mengatasinya. Hal itu akan menjadi lebih buruk lagi bila secra langsung atau tidak langsung mereka diperolok dengan  julukan bodoh, tidak matang, malas, atau nakal. Dengan demikian mereka tetap akan menjadi masalah!

Tiap anak relatif mempunyai kekuatan dan kelemahan. Serendah atau setinggi apa pun kecerdasan anak, secara relatif masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan yang dapat diberitahukan kepada mereka.  Kenyataan menunjukkan bahwa anak sering termotiavasi untuk memperbaiki kelemahannya apabila anak dapat mengenali jurang pemisah antara bidang yang lemah dan bidang yang kuat pada dirinya, serta mengetahui bagaimana caranya membangun jembatan di atas jurang tersebut.

Akan lebih aman jika kita menghubungkan ketidakmampuan mencapai prestasi dengan bidang-bidang tertentu yang dinilai lemah, misalnya kita melihat anak tulisannya jelek, daripada mengatakan “tulisannya jelek” akan lebih baik kita memberitahu, misalnya ” pada tulisannya hurufnya selalu tumpang-tindih” hingga pada suatu derajat tertentu bisa diidentifikasi bahkan kemudian diperbaiki.

Ini jauh lebih baik dibandingkan dengan kenyataan bahwa anak dibiarkan merasa bahwa dirinya “jelek”, “malas”, atau “bodoh”.

Untuk mengadakan penilaian belajar anak secara komprehensif diperlukan informasi yang menyangkut beberapa aspek sebagai berikut:

  • perkembangan sisi kekuatan dan kelemahan anak
  • kemampuan intelektual dan kognitif anak
  • kemampuan berkonsentrasi, apa yang menarik perhatian anak, demikian pula faktor daya ingatnya
  • tingkat pencapaian akademik anak
  • status emosional dan faktor kepribadian, termasuk konsep diri, kepercayaan dan nilai-nilai (values)
  • status sosial

Meskipun guru mungkin merasa tidak dapat menilai murid-muridnya secara akurat, namun biasanya mereka dapat memperoleh gagasan dari faktor-faktor tersebut dengan memanfaatkan campuran berbagai teknik, teramsuk perangkat pengukur formal, beberapa observasi pribadi, dan diskusi informal dengan murid-murid, orang tua murid, dan rekan-rekan sesama guru.

Informasi yang berhasil diperoleh dari penilaian ini dapat membantu memahami dan menakar bahan untuk membina anak secara individu serta untuk mempengaruhi kemajuan belajar mereka. Di samping itu, anak-anak juga perlu memiliki kemampuan untuk melihat kekuatan dan kelemahannya sendiri sehingga mereka juga dapat melakukan perubahan.

Sumber:

Peterson, L.  1995. Stop And Think Learning: A teacher’s guide for motivating children to learn. The Australian Council for Educational Research Ltd; Australia

Perihal syamsul hadi
Dapat dihubungi melalui email ke :syamsulhadi@live.com.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: