Kecerdasan Tidak Dibatasi Tes Formal

http://masthoni.files.wordpress.com/2009/07/sekolahnya-manusia.jpeg Seorang bocah dengan tangan gemetar memberikan secarik kertas kepada ibunya. Kertas putih itu adalah hasil ulangan hariam matematikanya. Ibunya sudah beberapa hari menunggu hasil itu.

“Ma… Andik dapet 4, ga pa pa kan Ma, abis soalnya sulit” Dengan terbata-bata sang anak melaporkan hasil ulangan matematikanya. Dapat dipastikan, yang terjadi berikutnya adalah tarikan napas dalam sang ibu yang kemudian ditumpahkan menjadi “marah besar” kepada si kecil.

Mana bisa nanti kau jadi orang, mana mungkin kau nanti jadi dokter, mana mungkin kau menyenangkan hati ibumu… kalau ulangan matematika aja cuman dapet 4. Nilai apaan itu? Emangnya kamu tidur saat gurmu mengajar?” Andik hanya merespon dengan tatapan kosong, berdiri di pojok.

Tanpa mampu dilihat oleh mata, saat itu Andik mengalami pemasangan kaki-kaki negatif dalam dirinya. Kaki-kaki negatif yang invisible itu adalah “aku bodoh”, “aku gagal”, “aku lemah”, dan sederet keyakinan negatif lainnya. Kemidian, Andik berpikir, bagaimana dengan bahasa inggris, sains dan pelajaran lain yang menurutnya lebih sulit daripada matematika.

Pikiran ini membuat tubuhnya gemeter.

Namun, siapa yang tahu jika dua puluh tahun kemudian Andik menjadi seorang dokter yang berhasil? Apabila mengingat masa lalunya yang sering mendapat nilai 4 dalam ulangan matematika ketika SD, dengan tersenyum sang dokter berkata, “Ternyata betul, tidak ada hubungannya nilai 4 ulangan matematikaku dengan profesi dan keberhasilanku sekarang.”

Kecerdasan seseorang tidak mungkin dibatasi oleh indikator-indikator yang ada dalam achievement test (tes formal). Sebab setelah diteliti, ternyata kecerdasan seseorang itu selalu berkembang (dinamis) tidak statis. Tes yang dilakukan untuk menilai kecerdasan seseorang, praktis hanya menilai kecerdasan pada saat itu, tidak untuk satu bulan lagi, apalagi sepuluh tahun lagi. Menurut Gardner, kecerdasan dapat dilihat dari kebiasaan seseorang. Padahal, kebiasaan adalah perilaku yang diulang-ulang.

Sumber kecerdasan seseorang adalah kebiasaannya untuk membuat produk-produk baru yang punya nilai budaya (kreativitas) dan kebiasannya menyelesaikan masalah secara mandiri (kemampuan problem solving).

Note:

Cerita di atas adalah salah satu dari banyak cerita inspiratif yang terdapat buku “Sekolahnya Manusia” . Penulis: Munif Chatib, CEO NEXT WORLDVIEW, Konsultan Pendidikan dan Manajemen.

Baru saja hari ini saya membeli bukunya di toko buku, sangat bagus untuk dibaca bagi setiap orang tua, dosen, guru dan semua orang yang peduli pada perkembangan kecerdasan generasi berikutnya.

Perihal syamsul hadi
Dapat dihubungi melalui email ke :syamsulhadi@live.com.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: