Email dari seseorang di Jepang

Berikut ini adalah email dari salah seorang alumni sekolahku. Sekarang dia sedang di Jepang. Berikut ini adalah isi emailnya.

Semakin maju sebuah masyarakat, semakin mengerikan penyakitnya. Itu adalah asumsi yang aku pikirkan setelah mengamati (dibilang mengamati juga ngga sepenuhnya bener sih) permasalahan masyarakat Jepang. Suatu hari, ketika sedang membahas penggunaan kata “tobikomu” (melompat masuk ke dalam sebuah tempat: semak2, kolam, etc) yang muncul di buku teks pelajaran, Yamamoto Sensei meminta kami untuk menyebutkan beberapa contoh yang lain. “Coba berikan contoh penggunaan tobikomu yang lain!” Nick, mahasiswa pertukaran asal Australia, nyeletuk, “Densha ni tobikomu.” Eeh, Yamamoto Sensei malah ketawa. “Kamu tahu ngga maksud dari kalimat densha ni tobikomu itu apa? Bukan masuk ke dalam kereta karena pintunya mau ketutup lho. Tobikomu itu, melompat ke rel kereta pas keretanya bakal melintas di situ. ” Semua mulut membulat. “Ooooh, gitu, ya , Sensei.” “Lho ? Memangnya kalian ngga pernah mendengar pemberitahuan kaya’ gitu ya kalau lagi di stasiun ?“ lanjut Yamamoto Sensei. “ Kadang-kadang kereta di daerah Tokyo ngga bisa lewat karena ada orang yang bunuh diri dengan cara seperti itu. Lumayan sering kok. “ “Heeeee ? “ Semua anak terheran-heran. “Masa’ sih, Sensei ? “ “Iya. Hmmm, hampir tiap hari. Dalam kurun waktu setahun ‘kan jumlah jisatsusha (orang yang bunuh diri) itu sekitar 300-an orang.

Ya Allah, betapa mereka sangat menyia-nyiakan hidup. “Alasan mereka apa, Sensei?” Tanyaku . “Hmm, yaa, ngga kuat nahan stress sih… “ Eh? Itu doang? Jadi inget salah satu hadits yang menyatakan bahwa betapa bahagianya hidup seorang muslim: jika mendapat musibah ia bersabar, dan itu baik baginya, dan jika ia mendapat nikmat, ia bersyukur, dan itu baik baginya (eh,, maaf, teks keseluruhannya lupa). Kasihan betul mereka yang ngga punya pegangan kaya‘ kita. Kalau stress atau malunya ngga ketulungan, langsung bunuh diri. Kalau ada masalah atau ngga diterima sama lingkungan, hikikomori (mengurung diri di dalam kamar, ngga keluar2 sama sekali kecuali untuk ke toilet). Di lain waktu, di malam hari, pas lagi latihan nyanyi untuk Hari Ibu tanggal 10 Mei di Party Room, tiba-tiba zanryousei mendapatkan email (di sini, gantinya sms, ya email) yang menyeramkan dan membacakannya di hadapan kami. “Anou ne, tadi, sekitar jam setengah sembilan malam (latihannya jam setengah sebelas malam), ada pria yang membawa pisau yang berjalan-jalan di sekitar tempat parkir sepeda di daerah kampus. Dia memakai topi, tingginya sekitar 170-an, dan bawa pisau. Sayangnya, ada mahasiswi program diploma yang dipanggil sama dia. Begitu mahasiswi ini menengok ke belakang dan melihat laki-laki ini mengacungkan pisaunya, mahasiswi ini langsung lari ke kombini (convinient store, sejenis toko yang buka 24 jam) terdekat, dan ia selamat. Nah, masalahnya, laki-laki ini sampai sekarang masih dalam pengejaran polisi,“ jelas Ho U Rin, sang zanryousei. “Makanya, kalian semua usahakan tidak berada di luar kalau sudah gelap, sebisa mungkin secepatnya pulang ke asrama, dan usahakan untuk tidak pergi ke luar sendirian.“ “Emangnya itu orang mabok ya?“ tanyaku. Maksudnya, kalau lagi mabok kan, apa aja bisa terjadi. “Ngga tau sih, tapi katanya sih ngga.” Ngga mabok tapi bawa-bawa pisau ke jalanan!!!! Menyeramkan….. Setelah selesai rehearsal , kami kembali ke block masing2 dengan was-was. Gimana kalau itu orang tiba-tiba menyelinap ke dalam asrama??? Serem! Serem! Meski dinding asramanya tinggi dan di atasnya dikasih lilitan kawat tajam, di depan pintu masuknya ada kamera CCTV, dan mesti ngapalin password untuk bisa ngebuka pintu, tetap aja menyeramkan! (Ah, tapi, santai aja kali, cid. Kalau emang ngga ditakdirkan untuk masuk mah, ngga bakalan masuk. Tapi kalau ditakdirkan untuk masuk, yaa mau seketat apapun keamanannya, pasti masuk. Yang penting kan udah ada usaha. Sisanya kita serahkan pada Yang Maha Kuasa) Karen Quispe, yang asalnya dari Virginia, pernah mengalami ketakutan yang sama juga. “Dulu, di Virginia, pernah ada sniper yang menembak orang-orang yang lewat di jalanan,” ceritanya, “Tanpa alasan, mereka menembak orang-orang itu. Selama hampir dua minggu, sekolah diliburkan, dan orang-orang jarang keluar rumah. Akhirnya, si penembak itu tertangkap juga.” Tapi, tetep aja dia ketakutan, karena besokannya (tanggal 10 Mei), dia mesti kerja sambilan di kampus dan baru pulang jam 6-an.

“Saya kira Jepang negara yang aman…” “Ah, ngga juga loh. Tahun lalu, di stasiun Keio Hachioji ada kejadian penusukan. Jadi, ada orang yang bawa pisau dan masuk ke dalam toko yang ada di stasiun, tiba-tiba orang itu menusuk pegawai toko tersebut. Satu orang tewas, satu orang lagi luka ringan. Pelakunya udah tertangkap sih. Pas ditanya alasannya apa, orang itu bilang kalau dia ngga punya alasan apa-apa, cuma pengen nusuk orang aja.” What?? Cuma pengen nusuk orang aja??? O, oke, kalau di Indonesia, kejadian2 kriminal itu biasanya dilandasi latar belakang ekonomi (duit), asmara, atau dendam membara. Yang tanpa alas an membunuh orang itu kaya’nya sedikiiiiit banget ya. Tapi, kalau di sini, katanya, peristiwa tusuk-menusuk tanpa alas an itu sering terjadi!!! Ya Allaah!! Jepang menyeramkan…

Buatku, Jepang memang sebuah Negara yang maju teknologinya, transportasinya, pendidikannya, dll. Negara yang bisa menghargai lingkungan tempat mereka tinggal dengan memikirkan sebisa mungkin gimana caranya biar ngga banyak sampah yang dihasilkan. Tapi kalau untuk pembentukan masyarakatnya? ?? Hmmm… Ngga tahu deh.. Bukannya mau narsis, tapi kaya’nya lebih bagusan Indonesia deh. Di kampus tempatku kuliah sekarang aja, ngga ada tuh yang bentuknya kaya’ BEM2an gitu. Klub-klub olahraga, kesenian, dan budaya sih ada, tapi kalo yang bener2 organisasi kaya’ BEM, gitu2 mah sampe hari ini (20 Mei 2009) belum aku temukan. Ngga ada yang namanya mentoring (ya iyalah, tapi kan kalo di UI mentoring macam2 agama kan ada), padahal Soka adalah kampus yang basisnya agama Budha. Kalau ditanya agama mereka apa, mereka pasti bingung jawabnya. Lha wong pas lahiran pake cara Shintou, nikah pake cara Kristen, upacara pemakaman pake cara Budha.Akhirnya, aku sampai pada kesimpulan: Jepang memang sudah maju, tapi Jepang juga mengalami beberapa hal yang kalau dibiarkan begitu saja, bias membuat masyarakatnya hancur. Di lain pihak, Indonesia memang bisa dibilang masih hancur-hancuran. Tapi dengan semangat sekumpulan orang yang memang berniat mengadakan perbaikan, insya Allaah bisa maju. Bisa banget!!!!! Tetep Semangat!!!! !! Harapan itu masih ada!

Perihal syamsul hadi
Dapat dihubungi melalui email ke :syamsulhadi@live.com.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: