>Company culture

>“Serulah kepada jalan (agama) Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara sebaik-baiknya. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang sesat dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”

(QS An-Nahl [16]: 25)

Berikut ini adalah pengalaman Ari Ginanjar Agustian yang dituliskan di buku ESQ Power.

PT Matsushita Kotobuki Elektronik Indonesia adalah salah satu anak perusahaan Matsushita yang bermarkas besar di Jepang. Salah satu produknya adalah barang-barang elektrinik dengan merk Panasonic

Group Matsushita beroperasi di seluruh dunia dan bergerak di segala bidang. Secara kebetulan saya pernah menangani fasilitas pelayanan jasa kesehatan 6000 karyawannya selama dua tahun. Bagi perusahaan yang saya tangani, ini adalah sebuah kepercayaan yang sangat besar, menangani anak perusahaan rakasasa internasional yang tersohor itu. Sekaligus bagi saya pribadi, adalah sebuah kesempatan belajar.

Pertama kali saya datang ke sana, saya kaget luarbiasa ketika memasuki toilet pada sebuah lobby perusahaan tersebut. Betapa tidak? Kebersihannya seperti hotel berbintang! Padahal saya tahu, umumnya mereka adalah pekerja-pekerja pabrik. Setelah itu saya melakukan meeting dengan beberapa staf mereka yang umumnya dari serikat pekerja. Setelah selesai, saya langsung keluar ruangan, mendahului mereka. Beberapa langkah berjalan, saya menoleh ke belakang dan saya melihat mereka sedang merapikan kembali kursi-kursi seperti pada saat awal meeting.

Dua kejadian yang nampaknya kecil itu sangat menggelitik rasa ingin tahu saya. Kemudian saya bertanya pada Ismet Gobel, salah seorang direktur sumber daya manusia PT. Matsushita, “Apa kiat-kiat Anda memimpin 6000 karyawan yang umumnya pekerja-pekerja pabrik itu menjadi begitu disiplin?”. Dengan enteng ia menjawab, “Dalam Grup Matsushita perusahaan dibagi menjadi tiga kelas. Kelas yang terendah adalah kelas tiga, yaitu apabila karyawan di pabrik ada ada yang membuang sampah dan tidak ada yang memungutnya. Perusahaan kelas dua, apabila ada karyawan yang membuang sampah tetapi ada karyawan lain yang memungutnya. Sedangkan perusahaan dikatakan perusahaan kelas satu, apabila tidak ada karyawan yang membuang sampah tidak pada tempatnya”.

Saya kemudian bertanya lagi, “Mengapa mereka senantiasa merapikan kembali kursi setelah rapat, bukankah ada petugas khusus yang akan membersihkan ruangan rapat itu?” Ismet Gobel menjawab “Dalam budaya Jepang, kita harus memikirkan orang lain yang akan menggunakan ruangan rapat itu, kita harus senantiasa memberi dan menolong.”

Di perusahaan Matsushita, misi utama bisnisnya bukan terletak pada uang. “Life is not only of bread”, hidup bukan sekedar untuk sekerat roti.

Note: Silahkan baca kisah inspiratif lainnya dari buku ESQ Power.
Ari Ginanjar Agustian. 2003. ESQ Power Sebuah Inner Journey Melalui Al-Ihsan. Penerbit: Arga

http://www.esq.co.id

Perihal syamsul hadi
Dapat dihubungi melalui email ke :syamsulhadi@live.com.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: