Karena orang tua juga menentukan…

orang tua dan anak

orang tua dan anak

Sebuah artikel dari Jurnal Bogor menyatakan bahwa kemampuan matematika yang baik akan membuahkan multiplier effect. Aku menyimpulkan bahwa kemampuan matematika sebagai kemampuan dasar akan memperkuat kemampuan-kemampuan lainnya. Mungkin bisa diperhatikan di sekeliling kita bahwa sebagian besar orang-orang yang kemampuan matematikanya baik akan mendapat nilai yang lumayan baik pula untuk pelajaran lainnya.

Peran orang tua sebagai penentu keberhasilan belajar anak adalah salah satu faktor yang sangat menentukan. Hal ini karena orang tua merupakan pendidik yang pertama dan utama bagi anaknya. Dalam hal ini adalah kemampuan matematika.

Beberapa tips yang sebaiknya dilakukan adalah sebagai berikut
1. Bertanya tentang pelajaran sekolahnya
Sering-sering bertanya kepada anak mengenai pelajarannya di sekolah, terutama pelajaran matematikanya. Hal ini akan memberikan efek penguatan (reinforcement) pada kemampuan matematikanya. Dengarkan saja, tidak perlu banyak komentar.

2. Berikan pertanyaan sederhana
Sering bertanya mengenai penjumlahan, pengurangan, perkalian atau pembagian kepada anak.

Salah satu bagian penting dari kemampuan matematika adalah kemampuan berhitungnya. Seorang anak yang kemampuan berhitungnya baik (terutama di tingkat sekolah dasar) akan memiliki rasa percaya diri yang besar dalam menerima berbagai pelajaran.

Pertanyaan-pertanyaan kecil mengenai matematika sederhana akan menguatkan kemampuan berhitungnya.

3. Berikan pujian
Anak yang sering mendapatkan pujian akan memiliki rasa percaya diri yang besar pula. Rasa percaya diri akan membantunya mengarungi berbagai permasalahan. Selain itu, ucapan orang tua bagi anaknya adalah doa, sedangkan doa orang tua adalah salah satu doa yang dikabulkan Allah SWT.

4. Minta pendapatnya mengenai sesuatu.
Pendapat seorang anak mengenai suatu hal akan mencerminkan kemampuan analisisnya. Minta kesimpulannya atau prediksinya mengenai sesuatu hal.

Kemampuan ini selain digunakan di matematika, tapi juga terutama digunakan di kehidupan sehari hari. Semakin sering semakin baik.

Selain yang sebaiknya dilakukan, ada juga yang jangan dilakukan
1. Jangan pernah mengatakan tidak suka matematika. Meskipun harus berbohong, jangan katakan saja “saya suka matematika”. Insya Allah akan menjadi suka beneran.

2. Jangan bercerita tentang sejarah buruk nilai matematika semasa sekolah atau kuliah dulu.

Seorang teman saya pernah berkata seperti ini. “Ah nyokap gw juga dulu kalkulus dapet D, klo gw dapet E trus ngulang lagi dapet D berarti ga apa2”. Dan akhirnya teman saya itu benar-benar dapat E dan harus mengulang lagi tahun depan.

3. Jangan merendahkan anak.
“Masak kamu begini saja tidak bisa!”, “Bodoh!”. Sebaiknya kita tahu bahwa kita juga harus memahami anak sebagai seorang manusia yang memiliki perasaan. Seorang yang akan menerima bulat-bulat apa yang dikatakan oleh orang tuanya. Jika orang tuanya menyatakan bahwa dia bodoh, maka dia akan menjadi benar-benar bodoh.

Saya masih ingat ketika dulu memiliki tetangga yang sering berkata kepada anaknya, “Dasar kamu itu dableg (bodoh)!” Akhirnya anaknya jadi bodoh beneran..

Jika anak kita salah, katakan saja kalau dia salah, dengan santun. Supaya dia juga bisa meniru cara kita untuk tetap santun meskipun ada orang lain yang salah.

Seorang anak bisa menjadi cerminan orang tuanya, bahkan doa dari seorang anak yang sholeh akan menjadi pahala yang terus mengalir kepada kita meskipun kita sudah “terpisah dari dunia ini”.

Perihal syamsul hadi
Dapat dihubungi melalui email ke :syamsulhadi@live.com.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: